Siang yang
ceria untuk jiwa yang biasa-biasa saja, kulangkahkan kaki ini untuk terus
beranjak menaiki tangga demi tangga hingga sampailah pada lantai 4 gedung
Syaifuddin Zuhri, sesampai di kelas kutata nafas yang terengah-engah kelelahan,
dan sebagian kawan-kawan yang lain yang sudah datang masing-masing sibuk
menyiapkan mata kuliah hari ini.
‘‘Hira..hira..sini
nduk.. ’’(sambil menarik kursi untuk bersebelahan) tunjuk mas yahya salah satu
teman tertua di kelas kami yang tepat pada 5 hari yang lalu pulang dari ibadah
umroh ke tanah suci, ia menyuruhku duduk disebelahnya dia biasa memanggilku
dengan sebutan ‘‘nduk’’ ,mungkin ada hal penting yang ingin dibicarakan. ‘‘Selamat
pagi mas.. sudah siap menembel tugas-tugas selama 2 minggu yang lalu belum?’’ sapaku basa-basi setengah serius. ‘‘Oh
ya sudah donk tapi secara berangsur dulu lah..’’ jawabnya. ‘‘Eh hir aku mau
ngomong sama kamu, kemarin waktu di madinah aku ketemu sama temenku yang lagi
kuliah disana tepatnya Universitas Madinah al-munawwaroh’’, Cerita maskana
dengan ekspresi khasnya. ‘‘Lhoh kok bisa mas yahya punya temen kuliah disana
mas’’ heranku pada mas Yahya. ‘‘Iya jadi critanya dulu dia temenku waktu les
dan setelah itu dia nyantri di pondok gontor sampai dia lulus dan mendapat beasiswa
melanjutkan kuliah di Madinah sekarang, namanya Abdillah dia asli dari Besuki’’,
Jelas mas Yahya yang padahal aku belum menanyakan namanya siapa asalnya
darimana. Dan di tengah-tengah perbincangan kami, bu Rina selaku dosen
pembelajaran IPS datang dan kegiatan kuliah pun di mulai seperti biasa.
Waktu sudah
menunjukkan pukul 4 sore , ketika aku di parkiran mengambil motor mas yahya
yang merasa belum menyelesaikan tujuan pembicaraannya kepadaku tadi pagi
bergegas menghampiriku, ‘‘nduk hira’’ panggilnya, ‘‘iya kenapa mas’’, tanyaku, ‘‘temenku
yang bernama Abdillah itu dia minta tolong padaku bahwa dia ingin mencari
seorang istri yang dari tanah air sendiri pesennya, yaa kan lumayan hir.. sudah
orangnya baik, sholeh terpelajar di Madinah pula. Aku bingung hir kira-kira
siapa kalau Kamu gimana mau nggak kayanya dilihat-lihat dari kriteria cocok
juga’’. Dengan nada promosi mas Yahya menjelaskan panjang kali lebar. ‘‘Duh
mas..hira ini mah apah atuh butiran Rinso dibilas ilang, yang lain sajalah yang
sama-sama imbang tipenya kalau didampingkan dengan mas Abdillah temen mas itu,
eh tapi mas gimana kalau kita kenalin ke mbak nadya temenku yang putrinya
alma.bapak Sirajuddin Hasan itu, mas Yahya tau kan’’, Kataku . ‘‘oh ya aku tau tau
,boleh juga sih ya nanti coba aku tunjukkin ke Abdillah deh’’dan mas yahya
tetap menunjukku sambil sedikit membully aku yang saat itu sambil bergegas naik
motor mau keluar dari parkiran berusaha mengabaikan pembullyannya.
Pada akhir pekan di hari
jum’at tiba-tiba entah kenapa aku kangen ingin berkunjung ke pondok pesantren
tempat aku tinggal dulu, satu-satunya pondok modern yang ada di kota
kecilku..disana banyak kutemui teman-teman alumni yang sebagian masih
mengabdikan diri dan juga adik-adik kelas salah satunya ialah aisyah sofa dia
termasuk adik kelas dan teman specialku sampai saat ini. Parasnya cantik, dia
anak yang cerdas, ramah dan luar biasanya lagi dia sudah menjadi hafidzoh
khatam jus 1 sampai 30 sekarang iapun juga melanjutkan kuliah sekampus denganku
namun masih mahasiswi baru karna ia pernah berhenti 2 tahun untuk menghafalkan
Al-quran. Kami berdua saling berbagi menumpahkan curhatan hati satu sama lain,
Melampiaskan rindu yang selama ini jarang sekali dapat bertemu. Dan di
tengah-tengah obrolan kami muncul di fikiranku teringat mas Yahya yang terus
terusan menagihku untuk mencarikan kenalan buat temannya. ‘‘Aisy..’’ panggilku ‘‘iya ukhty’’ hira jawabnya. ‘‘Emm
(sambil bingung ingin mengutarakan tentang hal itu) ukhty ingat dulu anti pernah
bercerita kalau bercita-cita ingin sekolah sampai di madinah. Iyakan kira-kira
cita-cita itu masih ada sampai sekarangkah’’. Tanyaku.‘‘Iyalah ukh ana masih
ingin sekali bisa kuliah kesana dan ana juga sudah bilang ke ummi sama abi
beliau mendukung ana asalkan ana bersungguh-sungguh terutama dalam menjaga
hafalan ana. Memangnya kenapa ukhty antum mau kesana juga adakah kenalan yang
bersekolah disana. Gimana ukhty antum cerita donk’’ kejaran pertanyaan darinya
padaku , tapi aku sedikit bingung memulai menjelaskan karena memang tujuan
bicaraku bukan itu. ‘’begini..ana kan
punya temen sekelas, nah temennya temenku itu tadi ada yang sedang menuntut
ilmu disana..sekarang dia lagi mencari seorang pendamping hidup..ya gak masalah
kalau masih kuliah di Indonesia, nanti setelah itu apakah mau di ajak tinggal
disana atau menetap disini urusan akhir,yang jelas harapannya dia tahun depan
sudah menemukan tulang rusuknya.’’ Jelasku pada aisyah. Nah aisyah hanya
menunjukkan ekspresi datarnya dan aku hanya menebak bahwa itu jawaban ‘’iya’’
nya yang masih membutuhkan waktu. Bulan berganti bulan tagihan mas Yahya padaku
untuk mencarikan bidadari buat temannya atau mas abdillah masih berlaku
sedangkan mbak Nadya yang pernah kami kenalkan sempat komunikasi dengan Mas
Abdillah namun karena mbak Nadya sudah memiliki calon sendiri yang sebentarlagi
akan mengkhitbahnya maka , dan aku menawarkan aisyah pada tawaran itu
serta menceritakan profilnya. Seiring berjalannyan waktu mas Yahya menghubungi
mas Abdillah dan dia meminta alamat media sosial milik aisyah, akupun terus
dipihak aisyah sambil sedikit berusaha mendorong pada ke ta’arufan ini. ‘‘mas
denger-denger kalau kita berhasil menjodohkan seorang muslim dan muslimat yang
baik hingga ke jenjang pernikahan pahalanya sebesar gunung uhud loh’’,kataku.
‘‘sambil tertawa mas Yahya semangat bersepakat ‘‘okelah hir, nanti kalau misi
kita ini berhasil pahala gunung uhud kita bagi ya..’’ kita berdua pun girang
seolah-olah sudah bakal menjadi biro jodoh dari teman yang spesial bagi kita.
Di lain hari ketika liburan
panjang semester 4 sudah berlalu tugas kuliah di awal semester semakin menumpuk
dan sepanjang kasih ibu kami pun sudah mulai lupa dengan rencana kontak
perjodohan itu. Dan akupun bertemu Aisyah di jalan mendadak ia mengajakku
keluar untuk makan siang, sambil jalan aku bertanya pada Aisyah tentang
tawaranku pas kita terakhir ketemu, dan tetap saja dia hanya tersenyum tersipu
malu, terus saja aku memancingnya bercerita, ‘‘yah.. dilihat dulu ukh gimana
kedepannya nanti, kami sih sudah saling komunikasi dan mas Abdillah sudah
kerumah untuk menemui abi sama umi liburan kemarin, beliau meminta izin untuk
meminta ana menjadi istri beliau’’ jujur Aisyah, ‘‘what??? Sudah kerumah??
Ngomong serius?? Eh kok anti ga cerita ? terus lanjutannya gimana kapan rencana
nikah” tanyaku sambil sedikit heboh. ‘‘ya pengennya sih in sha Alloh pas Abi
sama Ummi berangkat haji besok itu ukhty’’. Aku bertanya-tanya dalam hati,
orangtua Aisyah kan berangkat haji beberapa minggu an lagi, lantas nikahnya pas
kapannya? Karena waktu sudah menunjukkan jam masuk kuliahku maka rasa
penasaranku tak begitu terfokus dan kamipun berpisah melanjutkan aktivitas
masing-masing.
Di akhir pekan ketika aku sedang sibuk acara dirumah saudara yang baru saja pulang dari ibadah haji
tiba-tiba ponsel berdering kulihat panggilan dari mas Yahya, ‘‘hallo
assalamualaikum hir..ada kabar mengejutkan hir’’ ucapnya ‘‘iya waalaikumussalam
apa mas kabar mengejutkan itu,maaf ini agak bising soalnya hira lagi acara
dirumah saudara mas’’ jelasku, ‘‘aisyah hir aisyah..temen kamu, jadi nikah sama
temenku Abdillah seminggu yang lalu tepatnya di masjidil Haram’’. ‘‘hah?? Apa
mas mereka nikah? Nah seminggu yang lalu aku baru makan bareng ditraktir aisyah
tapi dia ga cerita apa-apa lo mas, trus kok bisa di masjidil Haram memang
caranya bagaimana?’’ dan mas Yahya menjelaskan kabar yang diperolehnya ternyata
mereka berdua sudah melaksanakan akad nikah melalui video streaming bertepatan
ketika orangtua Aisyah menunaikkan ibadah haji, dengan beberapa saksi dari
jama’ah Indonesia acara tersebut berlangsung di lantai dua masjidil Haram.
Akhirnya dengan perasaan girang tak menyangka aku dan mas Yahya yang merasa
menjadi orang yang berjiwa biasa-biasa saja
ikut senang an bersyukur bahwa Alloh mempercayai kami menjadi jalan atau
wasilah dalam perjodohan teman mulia kami. Berita pernikahan Aisyah dan mas
Abdillah pun telah menyebar di berbagai sosial media salah satunya di website
ternama di Indonesia dengan judul‘‘Mahasiswa Indonesia menikah di Masjidil
Haram’’. Alhamdulillah..