Minggu, 04 Desember 2016

‘‘Kuliah Sambil Mendaki Gunung Uhud’’



Siang yang ceria untuk jiwa yang biasa-biasa saja, kulangkahkan kaki ini untuk terus beranjak menaiki tangga demi tangga hingga sampailah pada lantai 4 gedung Syaifuddin Zuhri, sesampai di kelas kutata nafas yang terengah-engah kelelahan, dan sebagian kawan-kawan yang lain yang sudah datang masing-masing sibuk menyiapkan mata kuliah hari ini.
‘‘Hira..hira..sini nduk.. ’’(sambil menarik kursi untuk bersebelahan) tunjuk mas yahya salah satu teman tertua di kelas kami yang tepat pada 5 hari yang lalu pulang dari ibadah umroh ke tanah suci, ia menyuruhku duduk disebelahnya dia biasa memanggilku dengan sebutan ‘‘nduk’’ ,mungkin ada hal penting yang ingin dibicarakan. ‘‘Selamat pagi mas.. sudah siap menembel tugas-tugas selama 2 minggu yang lalu  belum?’’ sapaku basa-basi setengah serius. ‘‘Oh ya sudah donk tapi secara berangsur dulu lah..’’ jawabnya. ‘‘Eh hir aku mau ngomong sama kamu, kemarin waktu di madinah aku ketemu sama temenku yang lagi kuliah disana tepatnya Universitas Madinah al-munawwaroh’’, Cerita maskana dengan ekspresi khasnya. ‘‘Lhoh kok bisa mas yahya punya temen kuliah disana mas’’ heranku pada mas Yahya. ‘‘Iya jadi critanya dulu dia temenku waktu les dan setelah itu dia nyantri di pondok gontor sampai dia lulus dan mendapat beasiswa melanjutkan kuliah di Madinah sekarang, namanya Abdillah dia asli dari Besuki’’, Jelas mas Yahya yang padahal aku belum menanyakan namanya siapa asalnya darimana. Dan di tengah-tengah perbincangan kami, bu Rina selaku dosen pembelajaran IPS datang dan kegiatan kuliah pun di mulai seperti biasa.
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore , ketika aku di parkiran mengambil motor mas yahya yang merasa belum menyelesaikan tujuan pembicaraannya kepadaku tadi pagi bergegas menghampiriku, ‘‘nduk hira’’ panggilnya, ‘‘iya kenapa mas’’, tanyaku, ‘‘temenku yang bernama Abdillah itu dia minta tolong padaku bahwa dia ingin mencari seorang istri yang dari tanah air sendiri pesennya, yaa kan lumayan hir.. sudah orangnya baik, sholeh terpelajar di Madinah pula. Aku bingung hir kira-kira siapa kalau Kamu gimana mau nggak kayanya dilihat-lihat dari kriteria cocok juga’’. Dengan nada promosi mas Yahya menjelaskan panjang kali lebar. ‘‘Duh mas..hira ini mah apah atuh butiran Rinso dibilas ilang, yang lain sajalah yang sama-sama imbang tipenya kalau didampingkan dengan mas Abdillah temen mas itu, eh tapi mas gimana kalau kita kenalin ke mbak nadya temenku yang putrinya alma.bapak Sirajuddin Hasan itu, mas Yahya tau kan’’, Kataku . ‘‘oh ya aku tau tau ,boleh juga sih ya nanti coba aku tunjukkin ke Abdillah deh’’dan mas yahya tetap menunjukku sambil sedikit membully aku yang saat itu sambil bergegas naik motor mau keluar dari parkiran berusaha mengabaikan pembullyannya.
 Pada akhir pekan di hari jum’at tiba-tiba entah kenapa aku kangen ingin berkunjung ke pondok pesantren tempat aku tinggal dulu, satu-satunya pondok modern yang ada di kota kecilku..disana banyak kutemui teman-teman alumni yang sebagian masih mengabdikan diri dan juga adik-adik kelas salah satunya ialah aisyah sofa dia termasuk adik kelas dan teman specialku sampai saat ini. Parasnya cantik, dia anak yang cerdas, ramah dan luar biasanya lagi dia sudah menjadi hafidzoh khatam jus 1 sampai 30 sekarang iapun juga melanjutkan kuliah sekampus denganku namun masih mahasiswi baru karna ia pernah berhenti 2 tahun untuk menghafalkan Al-quran. Kami berdua saling berbagi menumpahkan curhatan hati satu sama lain, Melampiaskan rindu yang selama ini jarang sekali dapat bertemu. Dan di tengah-tengah obrolan kami muncul di fikiranku teringat mas Yahya yang terus terusan menagihku untuk mencarikan kenalan buat temannya. ‘‘Aisy..’’  panggilku ‘‘iya ukhty’’ hira jawabnya. ‘‘Emm (sambil bingung ingin mengutarakan tentang hal itu) ukhty ingat dulu anti pernah bercerita kalau bercita-cita ingin sekolah sampai di madinah. Iyakan kira-kira cita-cita itu masih ada sampai sekarangkah’’. Tanyaku.‘‘Iyalah ukh ana masih ingin sekali bisa kuliah kesana dan ana juga sudah bilang ke ummi sama abi beliau mendukung ana asalkan ana bersungguh-sungguh terutama dalam menjaga hafalan ana. Memangnya kenapa ukhty antum mau kesana juga adakah kenalan yang bersekolah disana. Gimana ukhty antum cerita donk’’ kejaran pertanyaan darinya padaku , tapi aku sedikit bingung memulai menjelaskan karena memang tujuan bicaraku bukan itu. ‘’begini..ana  kan punya temen sekelas, nah temennya temenku itu tadi ada yang sedang menuntut ilmu disana..sekarang dia lagi mencari seorang pendamping hidup..ya gak masalah kalau masih kuliah di Indonesia, nanti setelah itu apakah mau di ajak tinggal disana atau menetap disini urusan akhir,yang jelas harapannya dia tahun depan sudah menemukan tulang rusuknya.’’ Jelasku pada aisyah. Nah aisyah hanya menunjukkan ekspresi datarnya dan aku hanya menebak bahwa itu jawaban ‘’iya’’ nya yang masih membutuhkan waktu. Bulan berganti bulan tagihan mas Yahya padaku untuk mencarikan bidadari buat temannya atau mas abdillah masih berlaku sedangkan mbak Nadya yang pernah kami kenalkan sempat komunikasi dengan Mas Abdillah namun karena mbak Nadya sudah memiliki calon sendiri yang sebentarlagi akan mengkhitbahnya  maka  , dan aku menawarkan aisyah pada tawaran itu serta menceritakan profilnya. Seiring berjalannyan waktu mas Yahya menghubungi mas Abdillah dan dia meminta alamat media sosial milik aisyah, akupun terus dipihak aisyah sambil sedikit berusaha mendorong pada ke ta’arufan ini. ‘‘mas denger-denger kalau kita berhasil menjodohkan seorang muslim dan muslimat yang baik hingga ke jenjang pernikahan pahalanya sebesar gunung uhud loh’’,kataku. ‘‘sambil tertawa mas Yahya semangat bersepakat ‘‘okelah hir, nanti kalau misi kita ini berhasil pahala gunung uhud kita bagi ya..’’ kita berdua pun girang seolah-olah sudah bakal menjadi biro jodoh dari teman yang spesial bagi kita.
Di lain hari  ketika liburan panjang semester 4 sudah berlalu tugas kuliah di awal semester semakin menumpuk dan sepanjang kasih ibu kami pun sudah mulai lupa dengan rencana kontak perjodohan itu. Dan akupun bertemu Aisyah di jalan mendadak ia mengajakku keluar untuk makan siang, sambil jalan aku bertanya pada Aisyah tentang tawaranku pas kita terakhir ketemu, dan tetap saja dia hanya tersenyum tersipu malu, terus saja aku memancingnya bercerita, ‘‘yah.. dilihat dulu ukh gimana kedepannya nanti, kami sih sudah saling komunikasi dan mas Abdillah sudah kerumah untuk menemui abi sama umi liburan kemarin, beliau meminta izin untuk meminta ana menjadi istri beliau’’ jujur Aisyah, ‘‘what??? Sudah kerumah?? Ngomong serius?? Eh kok anti ga cerita ? terus lanjutannya gimana kapan rencana nikah” tanyaku sambil sedikit heboh. ‘‘ya pengennya sih in sha Alloh pas Abi sama Ummi berangkat haji besok itu ukhty’’. Aku bertanya-tanya dalam hati, orangtua Aisyah kan berangkat haji beberapa minggu an lagi, lantas nikahnya pas kapannya? Karena waktu sudah menunjukkan jam masuk kuliahku maka rasa penasaranku tak begitu terfokus dan kamipun berpisah melanjutkan aktivitas masing-masing.
Di akhir pekan ketika aku sedang sibuk acara dirumah saudara  yang baru saja pulang dari ibadah haji tiba-tiba ponsel berdering kulihat panggilan dari mas Yahya, ‘‘hallo assalamualaikum hir..ada kabar mengejutkan hir’’ ucapnya ‘‘iya waalaikumussalam apa mas kabar mengejutkan itu,maaf ini agak bising soalnya hira lagi acara dirumah saudara mas’’ jelasku, ‘‘aisyah hir aisyah..temen kamu, jadi nikah sama temenku Abdillah seminggu yang lalu tepatnya di masjidil Haram’’. ‘‘hah?? Apa mas mereka nikah? Nah seminggu yang lalu aku baru makan bareng ditraktir aisyah tapi dia ga cerita apa-apa lo mas, trus kok bisa di masjidil Haram memang caranya bagaimana?’’ dan mas Yahya menjelaskan kabar yang diperolehnya ternyata mereka berdua sudah melaksanakan akad nikah melalui video streaming bertepatan ketika orangtua Aisyah menunaikkan ibadah haji, dengan beberapa saksi dari jama’ah Indonesia acara tersebut berlangsung di lantai dua masjidil Haram. Akhirnya dengan perasaan girang tak menyangka aku dan mas Yahya yang merasa menjadi orang yang berjiwa biasa-biasa saja  ikut senang an bersyukur bahwa Alloh mempercayai kami menjadi jalan atau wasilah dalam perjodohan teman mulia kami. Berita pernikahan Aisyah dan mas Abdillah pun telah menyebar di berbagai sosial media salah satunya di website ternama di Indonesia dengan judul‘‘Mahasiswa Indonesia menikah di Masjidil Haram’’. Alhamdulillah..